Bacaan Takbir Hari Raya (Lebaran)

By | Maret 20, 2010
Takbir

Bacaan takbir

الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر لااله الاالله والله اكبرالله اكبر ولله الحمد

 

Bacaan Takbir Hari Raya (Lebaran)Malam Lebaran adalah waktunya Takbiran.
Dan berikut ini adalah  teks bacaan atau lafadz  takbir pada saat hari raya Idul fitri atau Idul adha. Lengkap dengan teks arab dan artinya serta bentuk teks takbir versi panjang (sempurna).
Sebelumnya sudah pada tahukan, kalau masa waktu takbiran untuk idul fitri itu umumnya satu hari saja dan untuk idul adha atau hari raya besar itu selama seminggu.
a. Takbir umumnya:

ُاللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ- اللهُ اَكْبَرْ لَااِلهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَلِلّهِ الْحَمْد


Allaahu akbar.. Allaahu akbar.. Allaahu akbar…..
Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Artinya :
Allah maha besar (3X)
Tiada Tuhan selain Allah
Allah maha besar
Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

b. Baca’an yang sempurna:

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا, لَااِلهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهْ, صَدَقَ وَعْدَهْ, وَنَصَرَ عَبْدَهْ, وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الْاَحْزَابَ وَاحْدَهْ, لَااِلهَ اِلَّااللهُ وَلَانَعْبُدُ اِلَّاإِيَّاهُ, مُخْلِصِيْنَ لَهُ الد يْنُ, وَلَوْ كَرِهَ الْكَا فِرُوْنَ, وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ, وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ, لَااِلهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ, الله اكْبَرْ وَلِلّهِ الْحَمْد


Allaahu akbaru kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,…
, wasubhaanallaahi bukrataw – wa ashillaa.
Laa – ilaaha – illallaahu wahdah, shadaqa wa’dah, wanashara ‘abdah, – wa – a’azza – jundah, wahazamal – ahzaaba wahdah. Laa – ilaaha illallallahu walaa na’budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiina walau karihal – kaafiruun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun. Laa – ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd

Artinya :
Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.
Tiada Tuhan selain Allah dan kami ttidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang-orang kafir, munafiq, dan musyrik membencinya.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Tambahan:
diterjemahkan dari kitab fikhu l-Islam wa adillatuh karya Prof. DR. Wahbah Zuhayli jilid 2 halaman 1406-1407 cetakan Dar el fikr, Syiria.

Shigot Takbir (kalimat takbir)

Dalam mazhab Hanafi dan mazhab Hambali shigot takbir sebagai berikut:
Allahu akbar 2x,
La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar,
Allahu akbar 2x
Wa li-llahi l-hamd.”
Sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Jabir, dan sebagaimana yang dilakukan oleh dua orang Khalifah Rasyidah dan Ibnu Mas’ud.

Dalam mazhab Maliki dan Syafii (dalam qaul jadid) kalimat takbir sebagai berikut:
Allahu akbar” 3x ini saja menurut mazhab Malik sudah lebih bagus.
Tapi jika ditambah dengan “La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar, Allahu akbar
wali-Llahi l-hamd” tidak masalah kata mereka (mazhab Maliki) karena ada hadis riwayat
Jabir dan Ibnu Abbas tentangnya.

Menurut mazhab Syafii disunnahkan menambah bacaan: “Allahu akbar kabiro wa l-hamdu li-Llahi katsiro wa subhana-Llahi bukrotan wa ashila” sehabis mengulang kalimat takbir di atas sebanyak tiga kali. Karena Nabi pernah mengucapkannya ketika berada di Shofa.

Kemudian disunnahkan menambah bacaan setelahnya dengan “La ilaha illa-Llah wa la na’budu illa iyyah, mukhlishina lahu d-din wa lau kariha l-kafirun, la ilaha illa-Llah wahdah, shodaqo wa’dah, wa nashora ‘abdah, wa hazama l-ahzaba wahdah. La ilaha illa-Llah wa-Llahu akbar“.
Tambahan di atas ini diperbolehkan (tidak disunnahkan) oleh mazhab Hanafi.

Dan diperbolehkan pula takbir ditutup dengan bacaan salawat:
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad wa ‘ala ashhabi Muhammad wa ‘ala azwaji Muhamad wa sallim tasliman katsiro“.

Hukum Bertakbir Pada Dua Hari Raya

Para fukaha sepakat (tidak ada yang berbeda pendapat) dalam masalah disyariatkannya bertakbir ketika:

Pergi di pagi hari menuju salat ied
setelah salat fardhu di hari-hari raya kurban (hari raya iedul adha dan tiga hari tasyriq).

Imam Abu Hanifah ra. Berpendapat: disunnahkan bertakbir tapi tidak nyaring di hari raya idul fitri ketika keluar dari rumah menuju tempat salat id karena mengamalkan hadis nabi yang berbunyi: “sebaik-baik dzikir ada yang tidak nyaring (khofiy) dan sebaik-baik rizki adalah yang mencukupi (tidak berlebihan)“. Dan kemudian berhenti bertakbir ketika telah sampai di tempat orang melaksanakan salat ied (dalam riwayat lain sampai dilaksanakannya salat).
Tapi beberapa ulama madzhab beliau berpendapat sunnahnya adalah bertakbir dengan nyaring pada hari raya idul fitri tersebut.
Dan semuanya sepakat bertakbir dengan nyaring pada hari raya kurban.

Jumhur ulama berpendapat: disunnahkan bahkan bertakbir dengan nyaring di mana pun, di rumah, di pasar, di jalan-jalan, di masjid ketika menjelang dilaksanakannya salat id.
Adapun mazhab Hanbali mengatakan sampai selesai khutbah id.

Takbir di hari raya fitrah lebih banyak dan lebih kuat ketimbang takbir di hari raya kurban. Salah satunya adalah firman Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 185 juga lantaran ia sebagai menampakkan syiar-syiar Islam dan peringatan bagi orang lain.

Takbir yang dibaca tidak setelah salat fardhu dinamakan takbir mutlaq. Sedangkan takbir yang dibaca setiap selepas salat fardhu namanya takbir muqayyad.
Takbir mutlaq menurut mazhab Syafii dan mazhab Hambali disunnahkan mulai dari terbenamnya matahari malam idul fitri dan tidak sebelumnya.
Takbir muqayyad menurut mazhab hambali juga mazhab syafii tidak disunnahkan pada malam idul fitri karena tidak ada dalil yang melandasinya.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *