Penanda Jender Pronomina Persona Bahasa Indonesia dan Arab

By | Juni 7, 2010

Sebuah analisis Kontrastif tentang Penanda Jender Pronomina Persona/Kata Ganti Tunggal Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab.

A. Pendahuluan
Pada Zaman serba canggih ini, terjemahan memainkan peranan penting yang semakin kedepan semakin penting. Dari sudut pandang peranannya, bolehlah dikatakan bahwa terjemahan dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antar bangsa-bangsa di dunia yang berbeda bahasa dan budayanya. Lebih lanjut melaui karya-karya terjemahan yang monumental, bangsa yang satu dapat mempelajari dan memahami kemajuan-kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah dicapai oleh bangsa-bangsa lain. Dalam halin Wills (1982) mensinyalir bahwa dekade yang lalu saja ada sekitar dua juta ilmuwan dunia yang sebagian besar dari mereka mempublikasikan hasil penelitiannya di segala bidang ilmu pengetahuan.

Namun sayangnya, alih pengetahuan dan teknologi yang sedemikian besar ini tidak akan tercapai apabila secara maksimal apabila tiadak dilakukan upaya-upaya penerjemahan hasil-hasil penelitian tersebut.
Refleksi atas fenomena di atas, bahasa Arab meruapakan bahasa yang di dijadikan pengantar dalam buku-buku mengenai ajaran-ajaran keagamaan yang di susun oleh orang Timur Tengah. Oleh sebab itu, adalah sebuah keharusan bagi oarang Indonesia khususnya mempelajari struktur-struktur tata bahasa Arab. Hal ini karena bangsa Indonesia sebagian besar menganut agama islam.

Dalam memahami bahasa Arab ini banyak sekali kesulitan yang dialami oleh penutur asing. Ini terjadi karena Bahasa Arab banyak sekali perbedannya dalam gramatikalnya. Dalam hal ini yang paling mencolok diantara bahasa-bahasa lainnya adalah dalam masalah gender. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam budaya Arab yang memegang prisip bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan perempuan.

Kasus di atas di antaranya juga diterapkan dalam pronomina persona (isim damir). Dalam tataran pronominal persoana ini, bahasa Arab sangat ketat dalam menggantikan kata yang diacu oleh pronomina tersebut apakah Feminim atau maskulin itu harusalah ada kesesuaian.

Suata analisis yang dipakai dalam menyelesaikan masalah di atas adalah dengan menggunakan analisis kontrantif. Yang dimaksud dengan analisis ini adalah metode yang digunakan untuk mencari prisinsip-prisipn perbedaan dan persamaan antara dua bahasa.

Dalam tulisan ini analisis kontrastif dibatasi pada masalah pronomina persona dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Arab dari aspek gramatikalnya saja yang meliputi aspek sistem tata bahasa dan stuktur tata bahasa.

B. Pronomina Persona Bahasa Indonesia (bI)
Dalam bahasa Indonesia (bI) pronomina adalah kata yang dipakai untuk mengacu kenomina lain, berfungsi untuk menggantikan nomina. Ada tiga macam pronomina, yaitu: Pronomina Persona, Penunjuk, dan Penanya.
Dalam tulisan ini yang akan dibahas adalah tentang pronomina persona. Persona pertama tunggal terdiri dari kata saya, aku, daku, -ku dan persona kedua jamak kami; persona kedua tunggal engkau, kamu, Anda, dikau, kau, -mu dan persona jamak kedua tunggal engkau, kamu sekalian, Anda sekalian; persona ketiga tunggal ia, dia, beliu, -nya.

C. Pronomina Persona Bahasa Arab (bA)
Pronomina persona dalam bahasa Arab (bA) yang biasa disebut dengan isim domir adalah kata yang di guanakan sebagai kata ganti pertama (mutakallim), kedua (mukhatab), dan ketiga (goib). Secara garis besar pronomina ini dibagi kedalam dua bagian, yaitu domir bariz (nampak/ kasat mata) dan domir mustatir (tidak nampak/ tersembunyi). Domir bariz dibagi kedalam dua bagian yaitu muttasil (dibagi lagi menjadi muttasil marfu’ dan mansub) dan munfasil (Marfu’, mansub, dan majrur).

Jika dikaitkan dengan kategori numeri, maka pronomina ini dijumpai dalam bentuk tunggal, dual, dan jamak. Selain berkaitan dengan numeri, gender dalam pronomina juga berkaitan dengan kategori verba. Gender pada verba tergantung sepenuhnya pada pronomina persona yang mengikutinya. Verba ini mencakup tiga bentuk: (a) bentuk lampau (fi’il madi); (b) bentuk sekarang/ akan datang (fi’il mudore); (3) bentuk imperatif (fi’il amar). Pada verba lampau pronomina ini muncul dalam bentuk sufiks. Pada verba sekarang/ akan datang, muncul dalam bentuk prefiks dan sufiks. Begitu pula dengan verba imperative, muncul dalam bentuk prefiks dan sufiks.

Masing-masing dari pronomina persona, baik kedua maupun ketiga memiliki satuan bebas (munfasil) dan satuan terikat (muttasil). Satuan bebas adalah satuan yang tidak menyatu dengan verba sedangkan satuan terikat adalah satuan yang menyatu dengan verba. Pemetakan masing-masing pada pronomina persona terlihat pada bagan berikut ini:

1. Bagan Ponomina Persona Pertama
TUNGGAL JAMAK
BEBAS Sujek ana nahnu
Objek iyyâya iyyâna
TERIKAT Past Sufiks tu na
Present/ Future Prefiks a- n-
Objek Sufiks -nî -nâ

Pronomina ini mengacu pada orang yang berbicara, yaitu ‘saya’ untuk bentuk tunggal dan ‘kami/ kita’ untuk bentuk jamak. Keduanya bergender netral karena dipergunakan untuk jenis maskulin dan feminism.

2. Bagan Pronomina Persona Kedua
TUNGGAL DUAL JAMAK
Maskulin Feminim Netrum Feminim Maskulin
BEBAS Subyek anta anti antumâ antum antunna
Obyek iyyaka iyyaki iyyakuma iyyakum iyyakunna
Terikat Past Prefiks – – – – –
Sufiks -ta -ti tumâ tum tunna
Present/Future Prefiks t- t- t- t- t-
Sufiks – -îna -âni -ûna -na
Imferatif Sufiks u- –

Berdasarkan bagan di atas terlihat bahwa pronominal persona kedua berbentuk satuan yang berfungsi sebagai subjek ada lima bentuk. Masing-masing bentuk memiliki deklinasi gender sekaligus number; (`1) –a pada kata anta ‘kamu’ 1 lk; (2) –I padav kata anti ‘kamu1 pr; (3) –umâ pada kata antumâ ‘kamu dual k/ pr; (4) –um pada kata antum ‘lkamu sekalian lk; (5) –unna ada kata antunna ‘kamu sekalian pr’. Selain satuan bebas, kelima pronominal ini memiliki satuan teriakat yang melekat pada verba, yaitu; -ta, ¬-ti, -tuma, -tum, -tunna pada verba lampau daqn t-, t-îna, t-âni, t-ûna, t-na pada verba sekarang/ akan datang. Distingsi penanda gender maskulin dan feminism terjadi juga pada objek.

3. Bagan Pronomina Persona Ketiga
TUNGGAL DUAL JAMAK
Maskulin Feminim Maskulin Feminim Maskulun Feminim
Bebas Subjek huwa hiya huma huma hum hunna
Objek iyyâhu
iyyâhâ
iyyâhumâ iyyâhumâ iyyâhum iyyâhunna
Terikat Past Prefiks – – – – – –
Sufiks – -t -â -tâ -û -na
Prefiks y- t- y- t- y- t-
Present/ Future Sufiks – – -âni
-âni -ûna -na
Objek Sufiks -hu -hâ -humâ
-humâ
-hum -hunna

Dari bagan diatas terlihat bahwa pronomina persona ketiga berbentuk satuan bebas yang berfungsi sebagai subjek ada lima bentuk: (1) huwa ‘dia lk’; (2) hiya ‘dia pr’; (3) huma ‘dia lk/ pr’; (4) hum ‘mereka lk’; (5) hunna ‘mereka pr’. Selain bentuk bebas kelima pronomina pronomina ini memilikin bentuk satuan terikat yang melekatv pada verba yaitu; 0/ morfem kosong untuk maskulin, -t untuk tunggal feminism, -â untuk dual maskulin, -tâ untuk dual feminism, -û untuk jamak maskulin, -na untuk jamak feminism pada verba lampau dan y- untuk tunggal maskulin, t- untuk tunggal feminim, y-âni untuk dual maskulin, t-âni untuk dual feminism, y-ûna untuk jamak maskulin, y-na untuk jamak feminism pada verba sekarang/ akan datang. Distingsi penanda gender juga terlihat pada fungsi objek.

D. Analisis Pronomina Persona Bahasa Indonesia dan Arab

1. Analisis Sistem
Sistem adalah keseluruhan yang teratur, masing-masing bagiannya berfungsi menurut kaidah-kaidah yang berkaitan untuk memungkinkan masyarakat bahasa berkomunikasi.

Menurut Keraf—yang dikutip oleh Pribadi dalam artikel ‘Analisis Pronomina penunjuk BA dan BI’—cirri-ciri system bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Tidak mengenal deklinasi (declination), yaitu perubahan bentuk kata nomina, pronomina, dan ajektifa berdasarkan fungsi kata itu dalam sebuah kalimat. Sebaliknya, tata bahasa arab menerapkan sistemperubahan-perubahan bentuk itu. Dalam pronomina persona bA dan bI, perbedaan system ini tampak sekali.
Contoh:
Saya memuliakan Muhamad أكرمت محمدا
Saya di muliakan oleh Muhamad أكرمني محمد
Dalam contoh di atas tampak bahwa pronomina persona saya tidak berubah bentuknya, padahal kasusnya berbeda. Sementara pronomina ت pada kasus subyek berubah menjadi ني pada kasus obyek.

2. Tata bI tidak mengenal bentuk numerus yaitu suatu system perubahan bentuk kata benda berdasarkan jumlah kata benda itu. Sebaliknya, tata bA menerapkan system ini secara ketat dan mendetail.
Contoh: الطالب يجتهد في دروسه
Mahasiswa itu bersungguh-sungguh dalam belajarnya
الطالبان يجتهدان في دروسهما
Dua orang mahasiswa itu bersunguh-sungguh dalam belajarnya

Dalam contoh di atas perbedaan system bI dan ba tampak jelas. Pada pronomina -nya dalam bI tidak mengalami perubahan. Sedangkan proinomina سه (tunggal) berubah menjadi سهما dalam bentuk dualis.

3. Tata bI tidak mengenal bentuk gender yaitu bentuk kata benda yang menunjukkan jenis maskulin dan feminism. Sebaliknya tata bA dalam semua tatarannya selalu dibedakan antara maskulin dan femunimnya.
Contoh:
Mahasiswa itu sedang solat di Masjid يصلي الطالب في المسدجد
Mahasiswi itu sedang solat di masjid تصلي الطالبة في المسجد

Dalam contoh ini sangat jelas bahwa pronomina untuk dua kalimat di atas nmeskipun kasusnya berbeda tapi tidak mengalami perubahan. Berbeda dengan bA yang mengalami perubahan bentuk dari ي maskulin menjadi ت feminim.

2. Analisis stuktur
Analisias struktur adalah hubungan linier antara unsur-unsur bahasa dalam tataran tertentu, atau hubungan gramatikal anatara kata-kata dalam frase atau kalimat yang konkrit. BA dan bI menerapkan pronomina persona pada posisi subyek, obyek, dan pelengkap dalam susunan frase untuk membentuk kalimat. Adapun perbedaannya terletak pada kesesuaian jenis kelamin dan numeralia. Tata bahasa Indonesia tidak menerapkan kesesuaian seperti apa yang terdapat dalam bahasa arab. Untuk contoh analisis struktur ini penulis anggap cukup dengan contoh di atas dalam analisis system karena masih ada kesamaan.

E. PENUTUP
Dari uaraian di atas dapat disimpulkan bahwa pronomina dalam bahasa Indonesia dan Arab memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan yang mencolok antara dua bahasa tadi yaitu dalam masalah bentuk pertama (Mutakalim), kedua (mukhotob), dan ketiga (goib). Adapun perbedaan yang paling signifikan yaitu dalam kesesuaian gender dan numeri. Hal ini sangat wajar karena bA termasuk ke dalam bahasa yang beropossi biner. Atau dengan kata lain semua jenis kata memiliki bentuk kata untuk maskulin dan feminism. Sedangkan bahas Indonesia termasuk ke dalam bahasa neuter atau netral.

Pengetahuan tentang pronomina persona ini sangat penting untuk dipelajari, karena kesalahan dalam membedakan pronominal persona—misalnya yang berdampingan dengan verba—akan mengalami kesalahan yang sangat fatal dalam memahami teks-teks berbahasa Arab. Begitu juga dalam menerjemahkannya.

Akhir kata penulis mohon maaf apabila dalam penulisan artikel ini banyak kesalahan, khususnya dalam analisis kontrantis pembahasan ini. Penulis sangat berharap kepada Bpk. Dosen khususnya, agar memberikan saran dan kritik mengenai tulisan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Dahdah, Anton. 1981. Mu’jam qawa’id al-lughah al,arabiyah. Beirut: Libanon.

Galayani, Musthafa. 2005. Jami’ al-Durus al-arabiyah. (Beirut: Maktabah al-Ashriyyah).

Hartono. 2005. Belajar Menerjemahkan Teori dan Praktek. Malang: UMM Press

Widjono, Bahasa Indonesia Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Perguruan Tinggi. Jakarta: Grasindo.

, Adabiyyat Jurnal Bahasa dan Sastra Arab. Vol. 4, No. II Juli 2005.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *