Rehabilitasi Metafisika – Pemikiran Muhammad Iqbal

By | Juni 7, 2010

Makalah tentang Rehabilitasi Metafisika Menurut Pemikiran Muhammad Iqbal

A. Pendahuluan

Setelah bertahun tahun berjaya, metafisika mendapat serangan dari berbagai filosof modern seperti David hume, Francis bacon, Descartes, dan Imanuel Kant. Mereka semua sangat gerah terhadap fokus filsafat barat yang sangat spekulatif, kontemplatif mencari-cari hakikat realitas sehingga tak menyumbangkan apa-apa bagi kepentingan umat manusia, pada dasarnya mereka sepakat bahwa spekulasi terhadap realitas ultim harus dihentikan dan sebagai gantinya adalah pendekatan empiris terhadap realitas yang semata-mata mencari hukum-hukum alam yang tetap dan universal.

Serangan metafisika kemudian memperkokoh suatu pandangan dunia materialistme mekanistik yang pada prinsipnya mendesakralisasi realitas; memandang alam sebagai alam profan yang dikendalikan bukan oleh kuasa gaib melainkan oleh hukum alam, sehingga mengindikasikan terhadap penolakan terhadap tuhan atau menganggap tuhan hanya sekedar menciptakan alam saja kemudian lepas tangan.

Pandangan dunia meterialisme yang memandang realitas sebagai realitas yang dikendalikan oleh hukum-hukum alam yang deterministik mekanistik dan universal tak dapat disangkal membawa kemajuan tekhnologi yang sangat bermanfaat bagi umat manusia.meskipun demikian pandangan dunia tersebut memiliki cacat yang cukup serius tatkala dipakai untuk memandang realitas kemanusiaan.manusia hanya dipandang sebagai benda-benda belaka yang tunduk dan patuh pada determinisme hukum-hukum alam.

Melihat kenyataan itu semua, muncul sosok seorang pemikir intelektual islam yang dilahirkan di India, tepatnya di Sialkot tanggal 22 Februari 1873, pada masa itu India masih menjadi daerah penjajahan kolonial Inggris, dia sangat luas pengetahuanya mulai dari timur sampai ke barat : dari pemikiran sufistik Al hallaj, Jalaludin rumi, Al ghozali sampai ke pemikiran Nietsche, Kant, Bergson dan Hegel yaitu Muhammad iqbal, beliau mempunyai kesimpulan bahwa metafisika sebagai disiplin harus dihidupkan kembali.

B. pengetahuan tentang realitas ultim

Dalam upaya merehabilitasai metafisika, permasalahan yang pertama kali dihadapi iqbal adalah permasalahan epistemologis.yaitu bagaimana manusia dapat mengetahuai realitas ultim? Hume dan Kant berpendapat bahwa pengetahuan manusia hanya terbatas pada kesan-kesan indrawi saja maka realitas ultim bukanlah termasuk kedalam pengetahuan karena tidak bisa ditangkap oleh kesan-kesan indrawi.

Tidak berbeda dengan para mistikus lain, iqbal sepakat dengan apa yang dikatakan olek hume dan kant bahwa realitas ultim tidak bisa ditangkap oleh kesan-kesan indrawi bahkan tidak bisa dijangkau oleh rasio yang daya jejalnya dibatasi oleh pengalaman ruang dan waktu. Akan tetapi iqbal menolak bahwasanya pengalaman indrawi adalah satu-satunya level pengalaman.iqbal bersama mistikus meehabilitasi metafisika dengan meyakini adanya level pengalaman yang mengatasi pengalaman indrawi yaitu pengalaman mistik.

Iqbal mengemukakan sedikit tinjauan secara umum tentang garis besar dan sifat-sifat pengalaman mistik.

  • Pengalaman bersifat langsung, sebagaimana bagian-bagian pengalaman yang biasa itu menjadi subjek penafsiran bahan-bahan terindra, begitu juga bagian pengalaman mistik itu menjadi subjek penafsiran untuk pengetahuan tentang tuhan, sehingga kita dapat mengetahuai tuhan persis seperti objek-objek lain.hal ini disebabkan karena keadaan mistik membawa kta pada kontak seluruh jalan menuju hakikat yang segalanya melebur menjadi satu kesatuan. Penyatuan akrab dengan diri yang unik, yang melebihi, meliputi, bahkan menindas kepribadian kita sebagai subjek penglaman.
  • Pengalaman tersebut tidak dapat diuraikan ataupun dikumunikasikan sebab kesadaran mistik bukanlan berupa pikiran tetapi lebih berupa perasaan.akan tetapi hal itu tidaklah memutus hubungan dengan kesadaran normal
  • Pengalaman mistik adalah penggabungan yang erat sekali dengan suatu pribadi lain yang tunggal, maha utama, maha menyeluruh, dan untuk seketika menekan kepribadian subjek yang mengalami pengalaman itu. sehingga ditinjau dari isinya, suasana mistik ini sangatlah objektif karena pengalaman ini terletak pada meleburnya manusia kedalam realitas ultim.
  • Pengalaman mistik ini adalah pengalaman yang berhubungan erat dengan keabadian dan pengalaman. ini bukanlah pengalaman tentang sesuatu yang serial berurutan melainkan pengalaman tentang pure movement / duration.

Pada terakhir pengetahuan iqbal menghubugkan pengalaman mistik atau biasanya dalam berbagai kontek iqbal lebih suka menyebutnya dengan sebutan pengalaman religius (religious experience) dengan intuisi.dimana intuisi ini menurut iqbal merupakan fungsi epistemologis dari hati manusia. Intuisi bukanlah property rasio, sebab rasio hanya bisa menangkap fenomena yaitu aspek realitas sebagaimana tampak melalui persepsi indrawi. intuisi membawa membawa manusia kepada kontak langsung dengan ralitas yang tidak terbuka bagi persepsi indrawi.

Intuisi iqbal bertolak belakang dengan intuisi para mistikus yaitu pengetahuan intuisi yang bisa kita ketahui langsug dalam kehidupan seari-hari yakni pengetahuan intuitf tentang adanya diri (self) baginya intuisi tentang diri jauh lebi kuat dibandingkan intuisi tentang realtas ultim, karena dari intuisi diri itulah kita bisa sampai kepada intuisi realitas ultim. dimana melalui diri kita mengadakan relasi dengan realitasi ultim.

Iqbal menekanakan sisi keunikan pengalaman mistik.bagaimanapun menurutnya, taraf pengalaman pengalaman tersebut tak akan dapat menghasilkan pengetahuan yang besifat universal, sebab hanya konsep-konsep sajalah yag dapat dimengerti umum.oleh karena itu taraf pengalaman mistik haruslah selalu bersifat perorangan dan tak dapat di transfer kepada orang lain.karena setiap orang memiliki keunikan dan subjektivitas masing-masing. Namun hal ini tak berarti pengalaman tersebut sia-sia. Justru keunikan peristiwa pengalaman mistik itulah yan menjadi bukti tentang kemutlakan diri.

C. Filsafat ketuhanan

Metafisika mempunyai tiga objek materi yang sangat rumit penjelasanya yaitu tentang teologis (ketuhanan), kosmologis (alam) dan antroposentris yang lebih menekankan pada psikologis (jiwa.) akan tetapi teologis dalam objek kajian metafisika lebih mempunyai kekhususan dibanding kedua objek kajian metafisika lainya karena kajian tentang ketuhanan tidak bisa ditangkap manifestasi lahiriahnya, sedangkan kajian tentang alam atau jiwa dapat ditangkap manisfestasi lahiriahnya dengan melalui indra. Kajian tentang ketuhanan atau teologis ini dapat disebut juga dengan filsafat ketuhanan.

Iqbal sepakat dengan kant tentang keterbatasan rasio manusia dalam mengetahui tuhan.sehingga ia menolak argument para filosof yang lebih mendasarkan pada nalar. Paling tidak tedapat tiga argument besar tentang pembuktian keberadaan tuhan yaitu argument teleologis yang mengemukakan bahwa dari struktur finalitas realitas dapat ditarik kesimpulan adanya sang pencipta yang menetapkan struktur. argument kosmologis yang mengemukakan bahwa tuhan harus ada, karena kalau tidak ada maka akan ada rangkaian kausalitas yang tak terhingga untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa. argument ontologis yang mengemukakan bahwa tuhan ada karena kita memikirkan dan mempredikasikan eksistensi terhadap dirinya.

Argument-argumen diatas dianggap iqbal gagal total dan ditolak karena mengandung kecacatan. argumen teleologis dianggap mereduksikan tuhan sebagai hanya penggerak semata sehingga menempatkan kedudukan pencipta seperti tukang yang berada diluar ciptaanya. kemudia dalil kosmologis dianggap mempermainkan hukum kausalitas itu sendiri karena terdapat sebab yang tidak disebabkan. dan argument ontologis juga dianggap sesat karena bagaimanapun alam yang memperlihatkan perubahan tak dapat menciptakan ide tentang wujud sempurna.
Filsafat ketuhanan iqbal berbeda dengan filsafat kontemplatif karena iqbal berangkat dari filsafat yang menekankan pengetahuan langsung tentang keberadan ego atau diri yang bebas –kreatif. aktivitas kreatif ego menurut iqbal membebaskan manusia dari segala bentuk determinisme; hukum kausal mekanistik, hukum kausal evolusionistik maupun takdir.

Iqbal sepakat dengan pendapat yang mengatakan bahwa rasio manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui hakikat tuhan.akan tetapi iqbal tetap meyakini bahwa penegetahuan tentang realitas ultim dapat disingkap melalui proses intuisi, dimana intuisi ini berbeda dengan intuisi para mistikus yang sampai melenyapkan ego karena pertama-tama yang tersingkap secara kuat lewat intuisi ini adalah ego atau diri yang kreatif, bebas, dan imortal.sehingga manusia mempunyai partisipasi didalam penciptaan, hal inilah yang membedakan konsep iqbal dengan panteisme yang menganggap leburnya ego.

Melalui jiwa kreatif inilah diri senantiasa berusaha keras menguasai pribadinya secara bertahap menuju gerak kesempurnaan,Yakni dengan tahapan belajar mematuhi dan tunduk pada kodrat manusia sebagai makhluk dan hukum-hukum Ilahi. Setelah itu tahap yang lebih lanjut dengan belajar disiplin terutama dalam mengendalikan diri dari berbagai kelemahan-kelemahan pribadi melalui ketakutan dan cinta pada Tuhan dan ketakbergantungan pada dunia. Tahap selanjutnya adalah proses pencapaian kesempurnaan spiritual yaitu dengan usaha mendekati Tuhan secara konsisten dengan ketinggian martabat pribadi. Sang pribadi mencari dengan kekuatan dan kemauannya. Jiwa-jiwa kreatif itu menurut iqbal senantiasa bergerak mencapai tingkat kesempurnaan pribadi. Tuhan tidak dapat diperoleh dengan cara meminta-minta dan memohon semata. Pada saat manusia telah menemukan Tuhan, pribadi tidak boleh larut terserap ke dalam Tuhan hingga menjadi tiada (manunggal), sebaliknya manusia harus menyerap Tuhan ke dalam dirinya sebanyak mungkin sifat-sifat-Nya. Dengan menyerap Tuhan kedalam dirinya, tumbuhlan ego. Ego menjadi super ego.

Dengan demikian posisi iqbal lebih tepat disebut panenteistik dari pada panteisme, yaitu gagasan yang menolak peleburan dunia dengan yang ilahi, tetapi tidak pula memisahkan secara rigoris. Dala pandangan ini wujud tuhan tidak dipersempit menjadi wujud alam, tapi alam adalah ungkapan empiris yang berbeda dalam segala hal. Artinya tuhan imanen sekaligus transenden.

D. Penutup

Menurut iqbal faktor utama yang yang membuat pemikiran islam mengalami dekadensi adalah konservatisme, mistisisme, dan materialisme. Konservatisme yang menekankan ketaatan mutlak pada tradisi sehingga merusak kebebasan kreatif diri, mistisisme pada abad pertengahan yang mengajarkan manusia untuk menolak ego dan dunia kongkret, materialisme yang memutuskan diri dengan realitas ultim sehingga melumpuhkan energi intuitif manusia.
Oleh karena itu iqbal melakukan pemikiran kembali seluruh sistem islam tanpa melepaskan diri dari akar tradisinya. Iqbal telah membongkar pola pikir mistis dengan mendiskripsikan realitas ultim sebagaimana adanya.
Pengaruh iqbal terhadap khazanah pemikiran islam tak hanya di wilayah timur islam, akan tetapi juga timur non islam dan barat.dimana pengaruh pemikiran para tokoh-tokoh barat dan timur membuat iqbal untuk mensintesiskan pemikiran barat dan timur sehingga membuat decak kagum para filosof dipelgai penjuru dunia.

E. Daftar Pustaka

Iqbal, Muhammad, the reconstruction of religious thought in islam, terj.taufik ismail dkk.,yogyakarta, jalasutra, 2002.
Gahral adian, Donny, muhammad iqbal seri tikoh filsafat, jakarta, teraju, 2003.
Gahral adian, Donny, matinya metafisika barat, jakarta, komunitas bambu, 2001.
Zuhroni, Khilmi, pemikiran iqbal, dalam http://www.himnews.com/index.php? Action=article.detail&id_art=11.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *