Tafsir Surat At – Tiin

By | November 30, 2010

Artikel tentang Tafsir Surat At Tiin Ayat 1-8

Pendahuluan

Surat yang berjumlah 8 ayat ini termasuk surat makkiyyah, dan turun setelah Al- buruuj. Dalam surat ini, Allah bersumpah dengan dua buah yang amat penting, dan dua tempat yan diberkahi allah. Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna, namun ia tidak mudah bertahan dalam kesempurnaannya. Boleh jadi, ia kembali (mati) dalam posisi yang sangat hina, kecuali yang menjaga dirinya dengan beriman dan beramal saleh.

Surat At tiin ini adalah surat yang ke 95 dan terdiri dari 8 ayat:

1. Demi tin dan Zaitun
2. Dan Demi thur sinin
3. Dan Dem kota ini yang aman
4. Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya
5. Kemudian Kami kembalikan ia ketempat ysng serendah- rendahnya
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, BAgi mereka pahala yang tiada putus-putusnya
7. Maka apa yang pernah menyebabkan engkau mendustakan agama {Diin}
8. Bukankah Allah adalah pembuatkeputusan yang paling bijaksana.

وَالتِّينِ
1. Demi tin
At-tiin menurut sebagian ahli tafsir,adalah gunung di daerah Damsyq (kota damsyq), sebab disanalah tempat tumbuhnya pohon Tin. Ada pula yang menyatakan bahwa At-tiin adalah masjid damsyik. Ada lagi yang menyatakan bahwa itu adalah masjid Nuh a.s. yang dibangunnya diatas bukit Judiy. Ada pula yang menyatakan bahwa ia adalah nama sebuah tempat dikota Kuffah, karena disanalah Nuh a.s. bertempat tinggal. Ada pula yang menyatakan bahwa ia adalah gunung diantara Hulwan dan Hamdan. Bersumpah dengan tempat tersebut adalah untuk mengingatkan tentang peristiwa yang berkaitan dengan Nuh a.s. serta bagaimana Allah swt. membinasakan kaum durhaka disana,dan menyelamatkan kaum mukmin yang soleh. Berkaitan dengan pernyataan bahwa ia adalah gunung didamsyik atau masjid dikota itu,kita tidak tau hikmah dari pengucapan sumpah dengannya. Hanya Allahlah yang mengetahui hal itu.

وَالزَّيْتُونِ
dan Zaitun
Az-zaitun Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Thuur (gunung ) Zeta; terletak di Bait Al-maqdis. Ada pula yang menyatakan bahwa ia adalah nama lain dari Bait Al-maqdis. Disebut Zaitun sebab mengingat banyaknya pohon Zaitun ynag tumbuh di sekitarnya.

Dari banyaknya pendapat ini, dapatlah disimpulkan bahwa At-tiin dan Azaitun merupakan symbol yang berkaitan dengan tempat tempat tertentu. Jadi maksudnya bukanlah bersumpah dengan pohon pohon itu sendiri,tetapi dengan tempat tempat pertumbuhannya.

Meskipun begitu, beberapa kalangan dari ahli tafsir menyatakan bahwa sumpah tersebut berkaitan dengan Tiin dan pohon Zaitun tersebut;mengingat banyaknya faedah yang diperoleh dari keduanya. Namun masih ada keraguan mengenai apa hubungan antara keduanya dan Thur Sinin serta al balad al amin (kota makkah);
dan apa hikmahnya sehingga semua digabungkan bersama. Karenanya,lebih banyak yang menguatkan bahwa keduanya merupakan dua tempat.

Kalaupun yang dimaksud adalah kedua pohon itu sendiri,tetapi hal itu bukan merupakan faedahnya yang banyak seperti yang mereka sebut sebut. Yang lebih dapat diterima adalah terkaitnya kedua pohon itu dengan berbagi peristiwa besar yang terjadi dimasa lalu,dan yang bekasnya masih terasa dalam kehidupan umat manusia sampai sekarang.

وَطُورِ سِينِينَ
2. Dan Demi thur sinin
merupakan gunung tepat Allah Swt. Berbicara dengan musa a.s. adakalanya juga disebuut Thur saina dan Thur sina. Adapula yang berpendapat bahwa sinin adalah suatu tempat yang bersebelahan dengan gunung tersebut. Menurut Alkhsafi sinin adalah kata jamak yang berarti pohon-pohon. Ksts tunggalnya adalah sinah, dan masih banyak lagi pendapat lain tentangnya. Ia disebut dalam rangkaian sumpah Allah Swt. Untuk memulyakan dan agar diingat sebagai tempat terjadinya berbagai mu’jizat besar yang berlangsung dihadapan Musa dan kaumnya. Demikian pula sebagai tempat penetapan syari’at Musa, serta tempaat turunnya Taurat.

وَهٰذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ
3. Dan Demi kota ini yang aman
Yakni Kota Makkah Al musyarrafah (yamg dimuliakan) .Allah Swt. menyebutnya sebagi kota yang aman, mengingat bahwa Dia telah mengharamkan perbuatan saling membunuh didalamnya. Sampai-sampai pohon dan tumbuhan pun,kecuali beberapa jenis yang sangat dibutuhkan penduduknya, tidak boleh ditebang atau dipotong rantingnya. Begitulah kota Makkah yang aman, tak seorangpun penghuninya akan merasa takut didalamnya. Digunakannya ungkapan sumpah disini, menunjukan kedudukannya yang tinggi,terutama karena disinilah awal mula terbitnya cahaya Islam.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik- baiknya .
Yakni dalam bentuk yang paling serasi dan kepribadian yang paling sempurna. Demikianlah Allah Swt. perlu bersumpah bahwa Dia telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan,mengingat bahwa masih banyak manusia yang lalai akan keutamaan akal yang diberikan kepada mereka,dan yang dengannya Allah Swt. telah memuliakan mereka diatas semua makhluk.Seolah-olah mereka mengira bahwa mereka adalah sama saja seperti binatang;melakukan apa yang dilakukan binatang;tanpa ada rasa malu yang mencegah,ataupun kehormatan diri yang mengekang. Lebih-lebih lagi,sebagian orang telah menyatakan bahwa”manusia memang tercipta dalam keadaan sangat cenderung kepada kejahatan”. Maka disini Allah Swt . menegaskan demi menyanggah pendapat yang rusak ini bahwa Ia telah menciptakan manusia dengan fitrah yang sebaik-baiknya;dalam jiwanya maupun fisiknya.

Dan Ia telah memuliakan juga dengan akal, yang dengannya manusia mampu menjadi pmimpin bagi seluruh alam diniawi; dan dengannya pula ia mampu menyaksikan apa saja, yang dikehendaki Allah Swt. diantara alam samawi.
Pada dasarnya manusia diliputi kebaikan semuanya, tak seorangpun dari masyarakatnya yang dikecualikan. Itulah masa ketika jiwa manusia diliputi perasaan Qana’ah, merasa cukup dengan apa yang ada mesti sedikit. Dan hati nya pun amat peka dalam memperhatikan kebutuhan setiap pribadi selain dirinya sendiri, baik dalam penghasilannya maupun dalam menolak bahaya yang mengancam kelompok mereka secara keseluruhan.

Namun setelah itu manusia mulai dikuasai oleh syahwat hawa nafsunya, dan saling berbenturan pula keinginan masing-masing. Kerusakan moral mereka mulai meluas, sehingga jadilah kejujuran pada sebagian hewan lebih baik dari pada yang ada pada manusia. Akibatnya merosotlah kedudukannya yang tinggi sesuai dengan fitrahnya. Itulah keadaan di masa lalu bahkan sampai sekarang.

ثُمَّ رَدَدْنٰهُ أَسْفَلَ سٰفِلِينَ
5. Kemudian Kami kembalikan ia ketempat yang serendah- rendahnya
Yakni Kami jadikan ia lebih rendah dari banyak binatang yang tadinya berada dalam tingkat yang lebih rendah dari manusia tersebut. Seekor binatang buas misalnya, senantiasa terdorong dalam perbuatan kebuasaannya, oleh fitrahnya yang asli. Karenanya ia tidak turun dari peringkatnya, dan kedudukannya tidak menjadi lebih rendah dari kedudukan aslinya dalam wujud alam ini. Sedangkan manusia dengan mengabaikan akalnya, dan dengan kebodohannya tentang apa yang seharusnya ia lakukan demi mencapai kebahagiaan-nya dan kebahagiaan manusia-manusia selainnya, akan menjadikan dirinya lebih rendah dari semua makhluk hidup selainnya. Seperti yang sering kita katakan, “manakala seorang manusia telah rusak mentalnya, jangan lagi bertanya tentang peracauan ataupun pelanggaran yang timbul dari dirinya

إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, Bagi mereka pahala yang tiada putus- putusnya
Disini Allah Swt.mengecualikan orangorang yang beriman kepada-Nya, yang mempercayai bahwa Allahlah sang pencipta alam semesta. Dan bahwa Dialah yang telah meletakan syari’at tentang kebaikan dan kejahatan, lalu membeda- bedakan antara keduanya. Mereka inilah yang membuktikan keimanan mereka dengan amal-amal shaleh, mereka inilah yang masih tetap menjaga harkat dan martabat kemanusiaan mereka, dan masih mempertahankan kelurusan fitrah mereka. Bagi mereka ini tersedia imbalan berupa kemuliaan didunia. Dan kelak apabila kematian mendatangi,mereka akan tetap berada dalam kenikmatan,terus bersambung sampai kepada kehidupan akhirat. Dengan demikian,pahala bagi mereka tidak akan terputus untuk selama-lamanya.

Orang-orang beriman yang dimaksud adalah para Nabi dan para pengikut mereka,serta orang-orang dari setiap umat yang memperoleh hidayah Allah Swt kepada agama yang benar. Dengan merekalah Allah Swt.memuliakan jenis manusia,dan dengan merekalah Allah Swt.menjaga derajat mereka yang tinggi diantara seluruh alam ciptaan-Nya. Segala tradisi bermanfaat,atau perilaku kebaikan yang anda saksikan diantara bangsa-bangsa masa kini,adalah peninggalan abadi dari umat-umat pilihan dimasa lalu

فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ
7. Maka apa yang pernah menyebabkan engkau mendustakan agama (Diin)
Yang dimaksud dengan agama (ad-din) disini adalah ketulusan hati dalam menerima kebenaran serta pelaksanaan amal-amal saleh, yang merupakan inti seruan nabi Saw. Serta para nabi lainnya. Bentuk pertanyaan dalam ayat ini mengandung penegasan bahwa tak ada sebab apapun yang patut membuatnya mendustakan ad-din (Agama) setelah engkau mengetahui bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk yang mulia yaitu para pemeluk agama yang benar

أَلَيْسَ اللَّـهُ بِأَحْكَمِ الْحٰكِمِينَ
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?
Maksudnya adalah bahwa Allah Swt.memang sang pen taqdhir yang paling tinggi hikmah dan kebijaksanaanNya dalam mengatur segalanya. Karenanya Ia menetapkan agama bagi spesies manusia ini untuk menjaga kemuliaan martabatnya sebagaimana telah disiapkan Allah Swt. Baginya sejak awal mula penciptaanya. Namun karena kejahilan dan keburukan pengaturan terhadap hawa nafsunya ia menjerumuskan dirinya sendiri kedalam tingkatan yang paling rendah. Dan itulah sebabnya Allah Swt.mengutus para Nabi dimulai dengan Nabi Nuh a.s dan Nabi-nabi sesudahnya sampai dengan Nabi Muhammad Saw.

Dengan demikian menjadi jelaslah arti Fa (maka) pada permulaan ayat ke tujuh diatas sebagai konsekuensi dari penciptaan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, maka tak ada sebab apapun yang membuat untuk mendustakan agama, namun sebagian orang menafsirkan ad-din dalam ayat ini, sebagai hari pembalasan, menrut mereka arti FA tersebut adalah “mengingat bahwa Allah SWT. telah memulai penciptaan manusia tanpa pola sebelumnya, maka tidak kah ia mampu mengembalikannya. Lagi (kelak pada hari pembalasan)
Wallahu a’lam bis-showab.

 

PENUTUP
KESIMPULAN


Dengan demikian maka dapat kita ambil kesimpulan dalam surat at- Tiin bahwa:

  • At-tiin dan Azaitun merupakan symbol yang berkaitan dengan tempat tempat tertentu. Jadi maksudnya bukanlah bersumpah dengan pohon pohon itu sendiri,tetapi dengan tempat tempat pertumbuhannya.
  • Bahwa Allah SWT. memang adalah sang Pen-tadbir, yang paling tinggi hikmah dan kebijakannya dalam mengatur segalanya, karenanya yang menetapkan agama bagi spesies manusia ini, untuk menjaga kemuliaan martabatnya,
  • Kota Makkah yang aman dantak seorangpun penghuninya akan merasa takut didalamnya. terutama karena disinilah awal mula terbitnya cahaya Islam.
  • Dalam ayat terakhir juga dibahas mengenai bahwa Allahlah yang Maha Bijaksana dalan menentukan Taqdir dan mengatur apa yang ada dimuka bumi ini,maka dari itu kita sebagai hambaNya tidak sepatutnya mendustakan apalagi sampai mengingkarinya Allah Swt. telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan dr yang pernah ia ciptakan. Wallahu a’lam bis-showab.

 

DAFTAR PUSTAKA


Ibnu Katsir.2007.”Tafsir Juz ‘Amma”. Edisi Revisi. Pustaka Azzam . Jakarta .

Drs.Rahadi,Abu Bakar.1986.”Terjemah Asbabun Nuzul Jalaluddin Rahmat As-Syuyuti.Wicaksana Berkah Illahi.Semarang

Prof.T.M Hasby As-Shidiqy.1973.”Tafsir Al-Qur’an Majid Annur”,Bulan Bintang.Jakarta.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *