Filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey

By | September 11, 2017

Sebuah makalah tentang filsafat Hermeneutika Wilhelm Dilthey (1833 – 19110)

Terjadinya pro dan kontra mengenai keberadaan hermeneutika selama ini sebenarnya menurut hemat penulis adalah dalam wilayah produk atas pemaknaan dan penafsiran terhadap hermeneutika itu sendiri. Padahal kalau kita cermat dari hermeneutika, ia hanyalah sebuah “alat”. Yang namanya alat sudah tentu sebuah keniscayaan yang memiliki keberagaman fungsi dan makna.

Suatu contoh umpamanya: uang atau duit. Dengan uang orang bisa membangun masjid, membantu sesama manusia, bersekolah/kuliah, bahkan dengan uang orang bisa membunuh, dengan uang Yusron bisa naik haji atau sms si Binti, Alwi bisa sms mama, Ajiz bisa menelfon si Zulfa, Mamat bisa beli kampoter, dan tak kalah pentingnya dengan uang, bahasa “bantingan” bisa muncul di komunitas mahasiswa jurusan Filsafat.

Jadi alangkah kejamnya kalau hermeneutika uang atau alat yang lainnya dijadikan sebagai objek kesalahan, tanpa pernah melihat kepada siapa yang menggunakannya.

Untuk itu tulisan ini berupaya untuk menyorot tentang bagaimna seorang Wilhelm Dilthey mewarnai hermeneutika dalam kapasitas keilmuan yang dimilkinya.

Pembahasan

1. Riwayat Hidup
Dilthey lahir pada tanggal 19 November 1883. ayahnya adalah seorang pendeta protestan di Biebrich dan ibunya adalah seorang putri dirigen dan karenanya ia menjadi penggemar musik juga . Setelah menyelesaikan pendidikan lokal, Dilthey meneruskan pendidikan lanjutannya di Weisbaden dan pada tahun 1852 pergi ke Heidelberg untuk belajar teologi. Hal ini adalah keinginan orangtuanya supaya nanti bisa mengganti posisi sang ayah sebagai pendeta atau petugas gereja. Namun hal ini gagal karena ia lebih tertarik pada sejarah dan filsafat.

Dilthey dan beberapa temanya membaca dan mempelajari karya-karya Shakespear, Plato, Aristoteles, dan Agustinus. Selama menjadi mahasiswa ia sangat tertarik pada karya Schleiermacher dan mengagumi seluruh karya intelektualnya, karena Schleiermacher mampu menggabungkan teologi dan kesusteraan dengan karya-karya kefilsafatan, serta kagum pada karya terjemahan dan interpretasinya atas dialog Plato. Bahkan tidak lama kemudian Dilthey mendapat dua piagam penghargaan atas pengetahuannya tentang hermeneutik. Inilah awal mula karier Dilthey sebagai seorang filosof.

Tujuan kedepan dilthey dalam hermeneutika adalah untuk mengembangkan metode memperoleh interpretasi “objektivitas yang valid “dari “ekspresi kehidupan batin” .ia bereaksi keras terhadap kecenderungan studi manusia yang secara picik mengadopsi norma-norma dan cara berpikir dari ilmu alam dan menggunakanya untuk studi manusia. oleh karena itu ia disebut sebagai penghubung para hermeneut abad ke 19, yaitu dengan tokoh utama schleiermacher dan sebagai pembawa tradisi baru hermeneutika abad 20.

Pada tahun 1896 ia terserang penyakit yang disebutnya sendiri dengan istilah “nervous origin” serta terkena gejala ‘insomnia’. Suatu hari Dilthey berlibur dan menginap di sebuah hotel di Seis di mana ia terserang infeksi dan meninggal dunia pada tanggal 30 September 1911.

2. Setting Histories Pemikiran Tentang Hermeneutika
Dilthey sebagai filosof tidak begitu dikenal, namaun dalam lingkup negaranya ia sangat cukup masyhur. Dalam bidang hermeneutika filosofis ia punya andil besar, relative memang tidak dikenal orang. Lebih banyak dikenal karena riset historisnya. Ia memang bukan sembarangan sejarawan. Ia adalah filosof yang menaruh perhatian pada sejarah. Perhatiannya pada sejarah tersebut lebih banyak memadukannya pada filsafat untuk maksud mengembangkan suatu pandangan filosofis yang integral–komprehensif dan tidak terjaring oleh dogma metafisika serta tidak ditenggelamkan oleh prasangka.

Hermeneutika Dilthey hidup pada masa ketika filsafat idealisme Hegel sedang jatuh dan ditumbangkan oleh positivisme. Pemikiran ilmu alam yang ditandai metode erklaren (eksplanasi) menjadi pemikiran yang mendominasi seluruh bangunan ilmiah. Dilthey lalu mengembangkan pemikiran tentang verstehen (understanding) sebagai bentuk gugatan pada ilmu yang terlampau positivistik. Verstehen dilahirkan dalam bingkai kritik sejarah dan ikhtiar memunculkan human science.

Dilthey mengatakan, hermeneutika diterapkan pada objek geisteswissenschaften (ilmu-ilmu budaya), yang menganjurkan metode khusus yaitu pemahaman (verstehen). Perlu dikemukakan bahwa konsep “memahami” bukanlah menjelaskan secara kausal, tetapi lebih pada membawa diri sendiri ke dalam suatu pengalaman hidup yang jauh, sebagaimana pengalamaan pengobjektifan diri dalam dokumen, teks (kenangan tertulis), dan tapak-tapak kehidupan batin yang lain, serta pandangan-pandangan dunia. Dalam dunia kehidupan sosial-budaya, para pelaku tidak bertindak menurut pola hubungan subjek-objek, tetapi berbicara dalam language games (permainan bahasa) yang melibatkan unsur kognitif, emotif, dan visional manusia. Keseluruhan unsur tersebut bertindak dalam kerangka tindakan komunikatif, yaitu tindakan untuk mencapai pemahaman yang timbal balik.

Dari uraian singkat di atas, kita bisa berasumsi bahwasanya hemeneutika Dilthey adalah suatu upaya untuk menjawab persoalan tentang bagaimana kita memperoleh pengetahuan sejarah. Dia mengawalinya dengan pandangan bahwa kita memahami sebuah peristiwa kesejarahan melalui pengaitannya dengan pengelaman individual hidup kita sendiri. Bagi Dilthey, pemahaman memiliki akar dan bermula dalam proses kehidupan itu sendiri, yang dia sebut sebagai sebuah “kategori kehidupan” (lebenskategorie). Kategori kehidupan, dengan begitu, merupakan jangkar tempat berlabuh dalam proses pemahaman, dalam kerja hermeneutika.

Usaha yang dilakukan oleh Dilthey terfokus pada pemisahan antara ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmul sosial (geisteswissenschaften). Dilthey menolak pemikiran para pengikut filsafat positivisme, semisal Comte dan Mill, yang menyatukan antara kedua jenis ilmu tersebut dari segi metodologi. Para penganut positvisme berkeyakinan bahwa satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan ilmu-ilmu humaniora dari keterbelakangannya, jika dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, adalah dengan cara menggunakan metode-metode ilmu-ilmu eksakta tersebut. Dengan cara pandang seperti ini, realita sosial dianggap sama dengan realita alam fisika. Inilah yang ditolak oleh Dilthey. Dari sini, Dilthey berusaha merumuskan metode ilmu-ilmu sosial yang berbeda dengan metode yang digunakan dalam ilmu-ilmu eksakta.

3. Hermeneutika Dilthey dan Ilmu Sejarah
Dilyhey menulis filsafat sejarah sebagai “kritik atas akal histories”, suatu filsafat tentang mengerti, cara melihat atau menemukan rangkaian pemikiran yang sedang berlangsung dalam sejarah artinya ia hanya melihat pola-pola sejarah tersebut dan kemudian mencoba memahami dan mengungkapkan makna yang terkandung dalam pola tersebut.
Yang menjadi sasaran Dilthey adalah memahami person yang menyejarah. Pemahaman atas sistem yang dihasilkan oleh person individu adalah mutlak bagi sasaran tersebut sebab person tidak lain adalah produk dari sistem sosial atau eksternal. Oleh karena itu, menurut Dilthey sistem eksternal adalah basis pemahaman histories. Yang ingin dicarikan oleh Dilthey adalah pemahaman dan intrpretasi atas kegiatan-kegiatan atas individu yang dengan sendirinya terstuasikan dalam sistem-sistem eksternal dari organisasi-organisasi sosial, politik dan ekonomi dengan nilai-nilai sendirinya yang sudah dianggap mapan dan mantap. Namun kegiatan-kegiatan individu juga merupakan indikasi atau petunjuk kearah faktor-faktor psikologisnya. Lingkungan eksternal maupun kejiwaan internal seorang person harus dilihat secara seksama dengan maksud untuk memahami prilakunya.

Hermeneutika sebagai dasar metodologis ilmu sejarah dapat dilihat seperti peristiwa sejarah yang dapat dipahami dengan tiga proses. Pertama, memahami sudut pandang atau gagasan para pelaku asli. Kedua, memahami arti atau makna kegiatan-kegiatan mereka yang secara langsung berhubungan dengan peristiwa sejarah, dan Ketiga, menilai peristiwa-peristiwa tersebut berdasarkan gagasan-gagasan yang berlaku pada saat sejarawan itu hidup. Maka sejarah yang dapat ditemukan dalam sistem hubungan dinamis yang saling tumpang tindih dalam proses sejarah, dan oleh karenanya semua peristiwa sejarah harus diinterpretasi ulang dalam setiap generasi.

4. Arti “Memahami”
Bila seorang sejarawan merekonstruksi suatu peristiwa, beraarti ia mencoba mnghidupkan kembali. Inilah alasan Dilthey menyatakan bahwa pemahaman adalah penemuan atas diri saya atas diri anda. Ini berarti pula bahwa seorang sejarawan membaca dirinya sendiri dalam objek penelitiannya atau dalam memahami, kita mengikuti proses mulai dari sistem keselururhan yang kita terima di dalam pengalaman hidup sehingga dapat kita mengerti, sampai ke pamahaman terhadap diri kita sendiri.

Pemahaman disini bukanlah pemahaman konsepsi rasional seperti memahami matematika akan teteapi pemahaman yang dipersiapkan untuk menunjuk aktivitas operasional dimana pemikiran memperoleh pemikiran dari orang lain. pemahaman ini terdiri dari dua proses yang berhubungan dengan rangkaian peristiwa dalam proses kehidupan.
Pertama,untuk memahami orang lain dan ungkapan–ungkapan hidupnya, maka kita harus memahami diri sendiri,yaitu memahami pengalaman hidup kita yang tidak bisa dijangkau dengan metode ilmiah.pengalaman inilah yamg dijadikan dilthey sebagai basis pemahaman terhadap hermenetiukanya yang diambilkan dari bahasa jerman dari asal kata Erleben menjadi Erlebnis yaitu suatu bentuk empati yang mensugestikan peristiwa hidup langsung yang didapati dalam keseharian

pengalaman yang hidup menimbulkan ungkapannya. Bila kita menyelidiki ungkapan dengan mundur ke pengelaman, ini berarti kita melakukan proses hubungan akibat-sebab. Kemudian dalam proses menghidupkan kembali atau rekonstruksi berbagai peristiwa, orang dapat melihat kelanjutan peristiwa tesebut sehingga ia bisa ambil andil bagian di dalamnya, maka ia melakukan proses hubungan sebab-akibat.
Kedua,meskipun orang dapat menyadari keadaan dirinya sendiri melalui ekspresi orang lain , namun orang masih dirasa perlu untuk membuat interpretasi atas ekspresi atau ungkapan-ungkapan tersebut.ekspresi atau ungkapan ini disebut oleh dilthey dengan istilah Ausdruck.

Dilthey menggunakan ekspresi dengan kata ausdruck ini secara prinsip tidak mengacu kepada limpahan emosi ataupun perasaan namun lebih kepada ekspresi hidup, sebuah ekspresi mengacu pada ide, hukum, bentuk sosial –segala sesuayu yang merefleksikan produk kehidupan dalam manusia.ia bukanlah sebuah simbol perasaan.
Dengan demikian ausdruck dapat diterjemahkan tidak sebagai “ekspresi” namun sebagi sebuah “obyektivikasi” pemikiran –pengetauhan, perasaan, dan keinginan manusia.

5. Hermeneutika Sebagai Fondasi Geisteswissenschaften
Dilthey mengembangkan metode baru yang disebutnya sebagai Geisteswissenschaften (ilmu-ilmu tentang manusia dan kebudayaan). Ia melihat pada zamannya, ada kesalahan fatal karena menempatkan Geisteswissenschaften di bawah kendali paradigmatic dan panduan metodologis Naturwissenschaften (ilmu-ilmu alam). Menurutnya bukan metode erklaren (penjelasan) yang di butuhkan untuk bisa mengerti manusia, tetapi sebaliknya yaitu metode verstehen (pemahaman).

Meski mengakui bahwa mnanusia adalah entitas tak-terduga, tapi bukan berarti metode verstehen berstatus lebih rendah dari metode erklaren. Sebab kita memperoleh pemahaman yang pasti terhadap fenomena kemanusiaan, setidaknya karena dua alasan; Pertama, fenomena yang hendak kita pahami adalah fenomena kemanuisaan-sebuah fenomena kita sendiri ada di dalamnya. Kedua, terkait dengan keyakinan Dilthey, bahwa ekspresi kehidupan cerminan dari muatan mental sang pelaku. Melalui pembacaan atas ekspresi kehidupan kita akan bisa sampai pada pemahaman yang hakiki mengenai fenomena kemanusiaan.

Jadi cukup jelas penolakan Dilthey terhadap gagasan Schleiermacher terutama ditujukan pada gagasan mengenai apa yang disebut “tafsir psikologis”. Ketimbang bersusah payah memahami konteks psikologis sang pengarang yang cenderung spekulatif, akan jauh lebih berarti kalau tatapan kita lebih diarahkan pada konteks kesejarahan pada saat mana sebuah teks terlahir. Dilthey sangat terobsesi untuk menggagas sebuah rancangan-bangunan metodologi yang baku, menyeluruh dan benar-benar tuntas, biar ilmi-ilmi sosial dan humaniora tidak kelihatan loyo, bisa tampil sehebat ilmi-ilmu alam.

Kesimpulan

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Dilthey dalam kajian hermeneutikanya memberi tekanan pada historisitas, tidak hanya pada manusia saja tetapi juga pada bahasa dan makna. Hermeneutiknya meliputi baik objek maupun subjek sejarah, peristiwa dan sejarawannya, interpreter dan yang diinterpretasikan.

 


Sumber Rujukan


Al Maula, Maulidin, Sketsa Hermeneutika Dalam Gerbang Jurnal Agama Dan Demokrasi, Surabaya, elsad, 2003

http://www.angelfire.com/journal/fsulimelight/hermen.html

Palmer Richard E, Hermeneutics Interpretation Theory In Schlemacher, Dilthey Heidegger And Gadamer, .Terj.Musnur Hery Dan Damanhuri Muhamed, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,2003, Cet Iii

Sumaryono E, Hermeneutik Sebuah Metode Filsafat, Yogyakarta, Kanisius,1999, Cet 10

 

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *