Filsafat Isyraqiyyah/ Iluminasi (Telaah Epistemologi)

By | September 26, 2017

Tulisan tentang telaah epistemologi sebuah aliran Filsafat Isyraqiyyah atau iluminasi Suhrawardi

PENDAHULUAN

A. Latar belakang masalah
Tanpa menafikan jasa dari peradaban terdahulunya, seperti mesir, India, dan syiria, yunani mempunyai karakteristik yang khas dari peradaban yang lain. Filsafat yang bertumpu pada reason (akal) menjadi inti dari kultur peradaban Yunani. Kultur inilah yang pada akhirnya ditransformasikan ke dunia islam, meskipun melalui kultur-kultur yang berbeda dan komuitas religius yang berbeda-beda pula, namun cirri yang tetap melekat dan permanent adalah the power of human reason.

Penerjemahan pengetahuan asing telah dimulai sejak periode Umayyah, gagasan dari Khalid anak khalifah Yazid, hinga periode keemasan Bani Abbasiyyah. Pada masa kekhalifahan Abbasiyyah, penerjemahan teks-teks Yunani (Syiria) kedalam bahasa Arab mencakup berbagai bidang keilmuan, seperti filsafat, astronomi, matematika, kedokteran, kimia, dan seterusnya. Dari para translator tersebut tersedia bahan-bahan filsafat Yunani, terutama karya Aristoteles dan Plato serta teks-teks filsafat Yunani akhir yang dihasilkan dari perpaduannya dengan Alexandariyah, yang karater utamanya adalah neo-platonis. Dari sinilah, kemudian lahir para filsuf muslim di wilayah timur, seperti Al-Kindi,Al-farabi, Ibn Sina, yang kemudian ditransfer (tentu melalui proyek Negara) ke Spanyol dan memunculkan filsuf-filsuf kawakan, seperti Ibn Rusyd, Ibn Bajjah, Ibn Khaldun, Ibn Thufail dan seterusnya.

Diskursus pemikiran filsafat islam adalah dalam kerangka historis setidaknya terbagi menjadi dua pemikiran (mainstream) besar yaitu : pertama, aliran masysy’iyyah (peripetatik) dan kedua, aliran isyraqiyyah (iluminasi). Aliran ini mencapai kesempurnaan pada aliran muta’aliyyah (wujudiyah) . Filsafat peripetatik merupakan sintesis ajaran-ajaran wahyu, aristotelisme dan neoplatoniesme, baik atenian maupun alexsandrian yang pada hakekatnya merupakan dielektika tradisi pemikiran islam dengan tradisi pemikiran yunani. Demikian juga dengan pemikiran isyraqiyyah, tidak berbeda jauh dari aliran peripetetik yang jua merupakan dialektika tradisi pemikiran islam dengan tradisi pemikiran yunani dan Persia.

Baca juga: Filsafat Iluminasi Suhrawardi

Pada perjalanannya, filsafat peripetatik ini tidak hanya mendapat reaksi dari kaum teolog semacam Al-Ghozali, tetapi ai juga mendapat respon secara lebih radikal dari seorang tokoh sufi Syihab ad-Din as-Suhrawardi yang kemudian memunculkan sebuah aliran baru, yakni filsafat isyraqiyyah. Kehadiran dan pengaruh suhrawardi dalam filsafat isyraqiyyahnya, setidaknya banyak analis sejarah islam, memberi angin baru bagi mereka dalam rangka memberikan counter terhadap klaim sejarawan orientalis semacam Ernest Renan yang menganggap bahwa tradisi intelektual islam telah mandek pasca ibnu rusyd. Bahkan, Nasr secara tegas menyatakan “filsafat islam dengan maknanya yang sejati belum berakhir dengan ibnu rusyd, (terutama) ketika ajaran-ajaran suhrawardi sedang menyabarkan (sayapnya) di negeri-negeri timur dan dunia islam.”

Rekaman historis menunjukkan bahwa perkembangan filsafat masysya’iyyah (peripetatik) mencapai puncaknya melalui seorang pemikir genius, semisal ibnu sina, meskipun banyak konsepnya dipengaruhi oleh Al-Farabi sebagai mu’alim as-sani. Keberadaannya filsafat ini mengalami benturan yang sangat berarti dalam perkembangannya yang bermula dari reaksi madzab Asy’ariah, terutama diwakili oleh Al-Gazali (w. 1111M). ketegangan ini pada akhirnya mempunyai daya yang destruktif bagi filsafat, terutama di wilayah islam bagian timur.

Dalam perjalanan sejarah islam, kehadiran filsafat pada dataran intelektual dunia islam menganggap akan mengancam cabang keilmuan islam tradisional. Aspek yang mendapat tantangan paling tajam adalah aspek rasional dari filsafat Aristotelian, terutama dari kelompok teolog dan sufi. Sebagaimana dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr, tantangan ini baru mereda pada saat filsafat terakhir ini menguat pengaruhnya di kalangan kaum Kristen barat, dan ketika di dunia islam digantikan oleh dua aliran pemikiran : doktrin sufisme dari Ibn ‘Arabi dan filsafat illuminasi suhrawardi, yang keduanya bertujuan untuk meraih kesadaran akan kebenaran dan menggantikan rasionalisme filsafat peripetatik dan intuisi (zauq). Tipe filsafat ini dianggap oleh sebagian orang sebagai pesintesis dua aliran besar yang sulit akur itu. Akhirnya, rekonstruksi suhrawardi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan filsafat islam berikutnya. Pengaruh ini juga dapat dilihat pada karya kajian filosof yahudi dan ahli logika Sa’ad Ibn Mansur Kaimunah.

Namun demikian, para peneliti filsafat illuminasi masih berselisih pendapat tentang posisi filsafatnya ditengah wacana kefilsafatan yang berkembang sampai masa hidupnya, dengan kata lain, tingkat orisinalitas filsafat illuminasi masih menjadi pembicaraan yang belum tuntas. Tradisi orientalis kuno menyatakan bahwa filsafat illuminasi suhrawardi sacara esensial tidaklah baru, dan menganggap bahwa komentar pendek Ibnu Sina tentang filsafat oriental (al-hikmah al-masyriqiyyah) telah mendahului filsafatnya. Untuk itulah filsafat illuminasi tidaklah berbeda secara esensial dengan filsafat peripetatik. Lebih detail S. van Den Bergh menunjukkan bahwa didalam pemikiran suhrawardi ditemukan berbagai teori dan argumen kaum skeptics dan stoics yang digunakan oleh ilmu kalam; ia misalnya mengajarkan teori stoics tentang identitas dari hal-hal yang tidak bisa dimengerti (indiscernables), teori skeptics dan stoics tentang subyektifitas atau ketidakmungkinan hubungan-hubungan; dan ia juga mengambil –seperti ilmu kalam- konsep tentang optimisme teodisi stoics.

Dalam pandangan Nasr, karya-karya suhrawardi dan komentar-komentar terhadap pemikirannya selama tujuh abad terakhir membentuk sebuah korpus utama dari tradisi isyraq serta merupakan khasanah doktrin-doktrin dan symbol-simbol tradisional yang mengkombinasikan didalamnya unsur-unsur kebijaksanaan sufisme dan hermetisme, filsafat phitagoras, platonic, Aristotelian dan Zoroastrian dengan berbagai unsur yang lain. Hal ini terbukti dengan berbagai pengaruh dari para filsuf terdahulunya, seperti Ibnu Sina. Di samping itu, ia juga sangat berhutang budi kepada serangkaian guru-guru sufi sebelumnya, seperti al-Hajjaj dan al-Gazali-terutama buku miskat al-Anwar. Suhrawardi juga dipengaruhi secara langsung oleh tradisi yang luas dari hermetisme yang merupakan sisa-sisa doktrin-doktrin mesir, Chaldean dan Sabaean yang bermetamorfosis dalam matriks Hellenisme, dan didasarkan pada simbolisme primordial alkemi, serta pengaruh dari ajaran zoroastrianisme, terutama dalam ajaran angelology dan simbolisme sinar dan kegelapan.

Berbeda dengan Nasr, Madjid Fakhry tetap berkeyakinan bahwa lepas dari unsue mistik dan ensperiensial dari filsafat suhrawardi, dasar kosmologi dan metafisika yang dibangun oleh suhrawardi tidaklah betul-betul asing. Pada hakekatnya, gagasan tersebut bertumpu pada pemikiran Aviccenian, Neoplatonik, Zoroastrian dan berbagai pemikiran timur lainnya. Apa yang membedakannya dari Neoplatonisme tradisional islam adalah terutama upayanya untuk memanfaatkan sepenuhnya tamsil cahaya yang telah dibayangkan oleh Ibnu Sina dan sepenuhnya dimasukkan oleh zoroastrianisme ke dalam pandangan dunia keagamaan dan metefisiknya. Keyakinan Fakhry ini didukung oleh kenyataan bahwa suhrawardi mengemukakan pembelaan-pembelaan terhadap kaum teosofi dari fitnahan dan kecaman masyarakat saat itu yang menuduh mereka sebagai atheis. Dalam karya I’tiqad al-Hukuma, suhrawardi mengajukan alasan bahwa kaum teosofi percaya kepada keesaan tuhan, penciptaan dunia dan keputusannya yang tidak bisa ditawar.

Namun, Hossien tetap menolak pendapat-pendapat diatas. Menurutnya, filsafat illuminasi merupakan konstruksi filosofis yang sistematis dan khas yang disusun untuk menghindari inkonsistensi metafisis, epistemologis dan logis yang ditangkap oleh suhrawardi dari filsafat peripetatik pada masanya. Meskipun Suhrawardi sangat menyadari peninggalan filsafat Ibnu Sina, tetapi filsafat illuminasi tidak bisa disamakan dengan filsafat Ibnu Sina. Suhrawardi memang menggunakan teks, istilah dan metode Ibnu Sina, namun ia menggunakan banyak sumber lainnya juga. Untuk itulah, tujuan filosofis yang mendasari disusunnya karya-karya yang bercorak illuminatif adalah khas milik suhrawardi,

Senada dengan Nasr, Faslur Rahman seorang pemikir Islam kenamaan juga melihat bahwa fenomena isyraqiyyah suhrawardi memberikan “arah baru” dalam perkembangan pemikiran islam. Rahman menyebutkan sebagai apa yang dinamakan filsafat keagamaan yang murni atau agama filosofis. Perkembangan ini, walaupun dalam perjalanan sangat dipengaruhi oleh sufisme dan para pemiliknya, namun tetap dapat dibedakan dari sufisme. Fenomena agama filosofis memiliki ciri argumentasi rasional dan proses-proses pemikiran yang logis dan murni intelektual. Sementara itu, sufisme semata-mata mengandalkan pengalaman intutif gnostika dan menggunakan imajinasi puitis daripada proses rasional. Gerakan filsafat ini, dalam mengambil watak religio sentrisnya, diperkuat oleh kenyataan bahwa filsafat murni itu memiliki sifat religius yang kuat. Dengan mendasarkan sifat rasional, ia membangun pandangan dunia yang benar-benar bersifat religius. Tradisi yang baru ini bermula dari konsep baru Suhrawardi dalam kencah pemikiran filosofis.

Dilihat dari segi lain, konsep-konsep Suhrawardi juga tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan al-Gazali dalam memadukan syariah, filsafat dan mistisme. Pengaruh dari keberhasilannya itu melahirkan dua aliran yang berbeda. Pertama, arah intelektual yang menghasilkan tasawuf yang bisa disebut sebagai arah metefisik atau gnostik. Kedua, arah populer yang diwujudkan dalam bentuk kongkrit sebagai lembaga-lembaga persaudaraan keagamaan, yang kemudian dikenal sebagai tarekat.

Salah satu konsep yang menjadi perbincangan menarik dalam tradisi filsafat isyraq adalah konsep cahaya. Konsep cahaya lahir dalam islam karena cahaya merupakan fenomena alam yang keberadaannya sangat disenangi oleh manusia, sehingga sering digunakan sebagai lembaga bagi berbagai macam bentuk kebahagiaan manusia. Beberapa bentuk kepercayaan mempersonifikasikan tuhan dalam cahaya, karena cahaya memiliki kekuatan yang menentukan bagi kehidupan manusia. Jadi, diskursus tentang “cahaya” bukanlah milik islam secara exklusif, melainkan juga milik kepercayaan-kepercayaan lain. Cahaya sangat mendominasi, misalnya, dalam kepercayaan iran kuno. Begitu pula dalam filsafat islam. Meskipun demikian, konsep cahaya mempunyai dasar tekstual yang kuat terutama yang tercantum dalam ayat 35, surat XXIV/ an-nur

   
Allah itu cahaya bagi langit dan bumi

Berangkat dari ayat ini dan konsep kuno Zoroaster tentang cahaya, suhrawardi menguraikan konsepsi mengenai kesatuan ilahi. Menurut penjelasannya, Tuhan adalah cahaya atas cahaya, dari itu terjadilah penyinaran yang mengakibatkan adanya sumber-sumber cahaya yang lain. Adanya penyiaran ini kemudian mewujudkan sendi-sendi alam materi dan alam rohani. Alam secara keseluruhan muncul karena sinar Allah dan limpahan-Nya. Bagaimana proses terjadinya penyinaran sehingga terjadi perbedaan kualitas baik dalam alam materi maupun alam rohani? Lalu bagaimana orang bisa membedakan antara sinar yang melahirkan meteri dengan sinar yang melahirkan rohani?

Adakah tingkatan-tingkatan didalam cahaya itu?
Suhrawardi menjelaskan konsep itu tidak saja dengan kebijaksanaan diskursif (al-bahsiyyah) akan tetapi menggabungkan kebijaksanaan itu dengan kebijaksanaan itu dengan kebijaksanaan eksperinsial (az-zauqiyyah). Filsafat ini juga menyatukan ittihad (sufi) dengan ittisal ( filosof). Disinilah letak keistimewaan konsep tokoh ini.
Salah satu konsep yang ditawarkan oleh Suhrawardi dengan konsep tingkatan wujud tersebut nampaknya mempunyai momentumnya dalam konteks kekinian. Kehidupan masyarakat yang memiliki tingkat pluralitas dan heterogenitas yang luar bisaa telah meniscayakan sebuah logika berpikir yang meniadakan konsep-konsep truth claim, yang satu menafikan yang lain, merasa benar sendiri. Meminjam Istilah al-Jabari, melalui penajaman intutuf, logika-logika “act with” akan lebih mengedepan dari pada logika-logika “act against“.

Hikmah isyraqiyyah dalam prespektif ini bisa diposisikan sebagai wahana untuk mempertautkan kembali kesadaran-kesadaran yang ada dalam tingkat-tingkat wujud yang selama ini telah didominasi oleh logika-logika ala Aristotelian yang dikotomis plus ahumais. Thruth claim, dengan demikian menjadi sesuatu yang tidak perlu terjadi karena dalam konteks kehidupan manusia, keragaman realitas, adanya tingkatan-tingkatan wujud semuanya menuju pada realitas tunggal –sebagaimana metefor Cahaya Suhrawardi- menuju kepada sumber cahaya yang mewujudkanya, cahaya prior : al-Nur al-Anwar.

Dengan demikian, berdasarkan analisis filosofis, suhrawardi tengah memberikan tawaran sebuah cara berpikir atau mode of thought bagaimana cara menghadapi realitas yang plural, ahomogen. Realitas empiris yang bermacam-macam manifesnya tidaklah berbeda dalam esensi dan ekstensinya. Partikularitas eksistensi adalah manifestasi dari realitas yang sama dengan tingkat perwujudan yang berbeda. Seluruh eksistensi dalam realitas empiris terwadah dalam satu reallitas tunggal. Berasal dari sumber emanasi yang maha pertama. Semua itu berbingakai dalam frame cahaya realitas absolute : tuhan.

B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah penyusun uraikan, maka penelitian ini akan difokuskan hanya pada dua rumusan masalah, adapun rumusan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana genealogi filsafat isyraq, serta proses penyinaran dan terbentuknya wujud?
2. Bagaimana konstruksi epistemology filsafat isyraq suhrawardi ?

C. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian
Dengan rumusan masalah seperti itu, maka tujuan utama penulisan ini adalah mengetahui secara mendalam bagaimana genealogi isyraq dan struktur pengetehuannya serta bangunan epistemology filsafat isyraq suhrawardi.
Secara teoritik, tulisan ini digunakan untuk memperkaya wacana pengetahuan irfani, sebuah pengetahuan yang selama ini dianggap ‘elit’ dan tidak menyentuh aspek-aspek kemanusiaan. Atas dasar itulah tulisan ini juga ingin sedikit mencari sisi-sisi tertentu atau implikasi yang ditimbulkan dari konsep wujud (filsafat isyraq) serta kiranya dapat dikembangkan ke depan dalam menghadapi persoalan kehidupan keberagaman dalam realitas yang bersifat majemuk dan plural ini.

D. Tinjauan Pustaka
Sejauh pengamatan peneliti, terdapat beberapa buku, artikel dan riset kesarjanaan yang mengulas tentang pemikiran Suhrawardi. Diantara tulisan-tulisan itu adalah buku Hossein Ziai yang berjudul : suhrawardi dan filsafat illuminasi : pencerahan ilmu pengetahuan, terj. Alif Muhammad dan Munir (Bandung, 1998). Buku ini secara garis besar mengulas filsafat illuminasi suhrawardi, posisi logika dalam filsafat illuminasi serta epistemology hingga kosmologi dalam filsafat illuminasi. Hampir dapat dipastikan bahwa pemikiran sentral, khususnya tentang filsafat illuminasi, dipaparkan didalamnya. Agaknya penjabaran yang komprehensif atas semua pemikiran Suhrawardi dalam buku ini, justru menjadikan buku ini sebagai pengatur komprehensif dalam memahami pemikiran suhrawardi. Kekurangan penelitian Hossein Ziai ini justru terletak pada tidak adanya sistematisasi dan pendalaman pada setiap petahan pemikiran suhrawardi yang diulasnya.

Satu bab dalam buku Seyyed Hossein Nasr, three Muslim Sages: Avicenna Suhrawardi-Ibn ‘Arabi(Cambrige, 1964). Sebagai seorang pemikir yang cocern dalam spectrum arus illuminasi, Nasr mengumpulkan tiga filsuf illuminasi dalam sebuah buku, termasuk diantaranya adalah suhrawardi. Buku ini secara sekilas mengulas pemikiran suhrawardi tentang Hikmat al-Isyraq.

Sementara buku Majid Fakhry yang berjudul Sejarah Filsafat Islam, terj. Mulyadhi Kartanegara, (Bandung, 1986), membicarakan tokoh ini dalam satu sub bab. Sebagaimana layaknya buku sejarah, tulisan Majid Fakhry tentang suhrawardi juga hanya secara sekilas menjelaskan beberapa aspek penting dalam Hikmah al-Isyraq.

Sementara sebuah buku yang cukup relevan dengan penelitian ini adalah buku yang ditulis oleh Siti Maryam yang berjudul Rasionalitas Pengalaman Sufi: Filsafat Isyraq Suhrawardi, (Yogyakarta, 2003). Aspek epistemology cukup menjadi pembahasan sentral dalam buku ini, disamping pula pemikiran Suhrawardi tentang konsep wujud dan cahaya, serta filsafat isyraq. Meskipun begitu, penjelasan tentang konsep pengetahuan dalam filsafat isyraq suhrawardi tidak terpilah secara jelas jika ditinjau dari aspek epistemology. Akibatnya penulis tidak bisa memilah dan membedakan mana wilayah origin of knowledge, method of knowledge, structure of knowledge dan validity of knowledge dalam filsafat isyraq.

Riset kesarjanaan juga pernah dilakukan oleh saudara M. Wawan Shafwan, yang berjudul Filsafat Illuminasi (Telaah Metafisika). Penelitian ini secara jelas melihat pemikiran suhrawardi dari aspek metafisika. Konsep-konsep dasar metafisika seperti konsep wujud, realitas dan tentang illuminasi sendiri menjadi konsentrasi penuh dalam penelitian ini.

Berbeda dengan para peneliti terdahulu, penelitian ini secara tegas menfokuskan diri pada aspek epistemologis dalam filsafat isyraq. Bidikan konstruksi epistemology dalam filsafat isyraq, secara sistematis akan mengulas sumber pengetahuan, cara memperolehnya, struktur pengetahuannya serta kevalidan bangunan filsafat isyraq.
Lebih dari itu, implikasi lebih jauh dari penelitian ini berhubungan dengan tantangan modernitas, khususnya yang diawali oleh konsepsi epistemology modern yang mengalami stagnasi. Karena itu, dibutuhkan konsep epistemology alternative yang memadai. Filsafat isyraq memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada pengembangan akal untuk menguasai ilmu pengetahuan dengan bimbingan dan disertai tasafuf yang mewujudkan kedamaian.

E. Metode Dan Pendekatan
Untuk sebuah karya ilmiah, metode mempunyai peranan yang sangat penting. Metode yang digunakan dalam sebuah penelitian menentukan hasil penelitian tersebut. Sebuah metode penelitian merupakan ketentuan standar yang harus dipenuhi. Adapun metode yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu :

1. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini sepenuhnya bersifat kepustakaan (library research), oleh kerena itu langkah pertama yang penyusun lakukan adalah mengumpulkan data-data primer khususnya data yang berhubungan dengan concern penyusunan skripsi ini. Data-data skunder akan penyusun gunakan untuk mendukung data-data primer. Sebagaimana jenis penelitian ini, penyusun akan lebih mengkonsentrasikan diri pada risalah Suhrawardi “Hikmat al-Isyraq”, disamping juga data-data sekunder yang menunjang serta mendukung penelitian ini. Pengumpulan data merupakan langkah awal yang sangat penting dalam metode ilmiah.

2. Metode Pengolahan Data
Setelah data-data primer maupun sekunder terkumpul, penyusun akan melakukan pengolahan data-data yang sudah terkumpul. Dalam hal ini penyusun mengunakan dua model pengolaha data-data sebagai berikut;

a. Interpretasi
Metode interpretasi digunakan untuk “membongkar” makna terhadap bermacam-macam fakta. Fakta-fakta yang berhasil ditemukan, kemudian dimaknai dan didefinisikan kedalam suatu konteks permasalahn. Dalam hal ini penyusun akan berusaha menelaah, menyelami dan memahami pemikiran suhrawardi, kemudian menafsirkannya agar dapat mengungkapkan maksud dan tujuan pengarang atau dalam konteks penelitian ini adalah Filsafat Isyraq dan implikasinya bagi keidupan keberagamaan

b. Deskriptif
Setelah penyusun menginterpretasikan data-data tersebut, maka penyusun akan melakukan upaya penggambaran secara utuh dan komprehensif. Upaya ini penyusun lakukan agar pembaca mampu memahami hasil penelitian ini dengan baik. Dari berbagai yang telah diperoleh dan dikumpulkan, dan dengan menggunakan penelitian ini, penyusun akan menguraikan secara menyeluruh dan teratur segala konsep tokoh, karenanya, data-data tersebut tidak hanya disajikan secara abstrak.

c. Kesinambungan Historis
Metode ini penyusun gunakan untuk menghindari kesalahan sejarah mengenai peta pemikiran suhrawardi, dan pengaruhnya terhadap system pemikiran yang dianutnya. Serta untuk akan mengungkap lingkup kesejarahan dan pengaruh pemikirannya terhadap lingkungannya. Metode ini juga kami gunakan untuk melihat setting intelektual suhrawardi, baik dari sisi politik, social dan budaya.

Disamping beberapa metode yang digunakan dalam penelitian ini, digunakan juga pendekatan transendental-metafisik, pendekatan ini menekankan bahwa realitas itu tidak hanya terbatas pada hal-dal yang bersifat empiris belaka (sensual), akan tetapi juga mencakup fenomena yang tidak bisa dijangkau oleh inderawi, seperti keyakinan, kemajuan, hasrat, nafsu ataupun juga hal yang bersifat transenden. Relevansi pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada aspek intutitif (zauq) dalam filsafat isyraq. Kiranya persoalan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat meta-empiris hanya bisa didekati dengan pendekatan transsendental-metafisik.

E. Sistematika Pembahasan
Pembahsan dalam penulisan ini disusun dengan sistematika sebagai berikut : pendahuluan, pembahasan dalam tiga bab dan kesimpulan.

Pendahuluan membicarakan latar belakang dan rumusan masalah, metode dan pendekatan yang digunakan dalam menyelesaikan masalah dan kajian pustaka serta arti penting topik yang diteliti. Sistematika pembahasan merupakan bagian akhir yang digunakan mensistematisasikan rencana penelitian.

Pada bab dua dipaparkan riwayat hidup Suhrawardi yang berisi setting sosio-kultural yang melingkupinya, biografi intelektual, termasuk didalamnya latar belakang pendidikan, kedudukannya dalam dunia pemikiran, dan karya-karyanya. Ini semua merupakan pengantar yang penting untuk memahami pemikiran-pemikirannya.
Pada bab tiga dipaparkan gambaran umum tentang filsafat isyraq. Pembahasan ini mencakup asal-usulnya, pengertian dan ajaran-ajaran pokoknya, proses pernyinaran dan kaitannya dengan wujud, serta posisi logika dan zauq. Pembahasan terakhir ini dimaksudkan untuk mengetengahkan pentingnya kedua hal itu dalam konstruksi filsafat isyraq.

Bab keempat dar tulisan ini membahas bangunan filsafat isyraq dan implikasinya dalam kehidupan. Pembahasan ini mengutarakan konsep-konsep wujud suhrawardi dan implikasinya dalam kehidupan keberagamaan manusia. Tercakup di dalamnya pembahasan mengenai pengertian pengetahuan, sumber dan struktur pengetahuan isyraq, cara memperoleh pengetahuan dan pentingnya pembersihan jiwa. Pembahasan yang terakhir penulis kaitkan dengan relevansi konsep filsafat isyraq untuk menjawab tantangan epistemology modern yang tidak mengakui tipe pengetahuan intuitif.

Tulisan ini diakhiri dengan kesimpulan yang didalamnya akan diberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang telah disampaikan dalam rumusan masalah serta saran-saran dan penilaian penulis terhadap konsep-konsep filsafat isyraq suhrawardi.

 

Daftar pustaka

Bagus, Lorens Kamus Filsafat, Gramedia: Jakarta, 2000

Bakker, Anton dan Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat Yogyakarta : Kanisius, 1990

Corbin, Henry the Man of Light in Iranian Sufism, terj. Nancy Pearson Boulder London :Shahmbala, 1978

Fakhriy, Majid. Sejarah Filsafat Islam, terj. Mulyadi Kartanegara, Jakarta: : Pustaka Jaya, 1987

Leaman, Oliver. Pengantar Filsafat Islam, ter. Amin Abdullah Jakarta: Rajawali, 1986

Madkour, Ibrahim. Pengantar Filsafat Islam, terj. Yudian W. Asmin Jakarta: : Bumi Aksara, 1995

Nasir, Moh. Metode Penelitian Jakarta: PT Ghalia Indonesia, 1998

Nasr, sayyed hossein. Tiga Pemikir Islam : Ibnu Sina, Suhrawardi, Ibn Arabi, terj. Ahmad Mujahid Bandung : Risalah 1986

________________. “Filsafat Hikmah Suhrawardi“, Jurnal Ulumul Qur’an No 3/VII/1997

________________. Tiga Pemikir Islam, bandung: risalah, 1986

________________. Intelektual Islam, Teologi, Filsafat dan Gnosis. Terj. Suharsono Yogyakarta : pustaka pelajar, 1996

________________. dan Oliver Leaman, History of Islamic Piloshofy, I, London : Routledge, 1996

Rahman, Fazilur. Islam, terj. Ahsin Muhammad Bandung : Pustaka, 1986

Roswantoro, Alim. “Pertemuan Kebudayaan Islam Dan Yunani : Mencari Benang Merah Transendental Filsafat Islam”, Potensia Islam, Jurnal Bem-J Filsafat Islam, Fak, Ushulhuddin UIN Sunan Kalijaga, Vol 1, Mei 2002

Van Den Bergh, S. “al-Suhrawardi,” EJ Brill’s First Ancyclopaedia of islam 1913-1936, VII, Leiden : E.J. Brill, 1993

Ziai, Hossein. Suhrawardi dan Filsafat. Terj. Arif Muhammad dan Munir, Bandung: zaman Wacana Muliam 1998

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *